ir a principal |
Ir a lateral
Sebelumnya saya mau mengucapkan selamat hari raya Idul Fitri, mohon maaf lahir & batin. Terlambat memang, tapi sekali lagi, biar telat dari pada tidak. Lumayan lama saya tidak ngeblog. Bukan karena penyakit malas ngeblog itu lagi(ngeles), tapi karena kemaren masih dalam suasana lebaran, jadi saya dan sepertinya juga blogger² lainnya masih sibuk dengan "dunia nyata" nya masing², dan menyebabkan planet bloggernus dengan sukses mendadak dangdut sepi. Tapi minggu ini tampaknya kehidupan dunia maya para blogger sudah mulai normal kembali. Para blogger sudah mulai membenahi rumah (baca: blog) mereka masing². Ada yang mendekorasi ulang (baca: ganti lay out), ada yang menambah perabotan (baca: widget), ada juga yang syukuran (baca: baru bikin blog), dan yang pasti postingan² terbaru sudah mulai menghiasi wajah per-blog-an indonesia. Postingan terakhir saya tanggal 20 bulan kemaren, masih dalam bulan puasa. Berarti genap 1 bulan saya ikut²an libur ngeblog. Waktu saya cek, traffic blog saya meningkat pesat, lebih padat dari biasanya. Saya iseng² cek di Page Rank Checker, waahhh... dapat angka 3 setelah sebelumnya 0 tanpa sisa. Alhamdulillah... berkah Ramadhan kemaren nih. Hehe... Terima kasih buat fellows blogger yang sudi mampir ke blog saya yang keren hina ini. Bagi yang ingin ngecek pagerank blognya langsung saja ke sini.
Oke, kembali ke laptop... Hari ini saya mau cerita tentang peristiwa menyedihkan lebaran kemaren. Kisah ini bukan tentang manusia, atau hewan, apalagi tumbuh²an. Kisah ini tentang sebuah gelas. Ya, saya pastikan anda tidak salah dengar baca, ini adalah kisah tentang sebuah gelas... G-E-L-A-S. Gelas yang sudah 4 tahun menemani saya dalam pahit manis nya dunia per-kopi-an. Gelas yang saya beri nama Yellow. Ehm... begini ceritanya. Yellow adalah gelas berwarna kuning, ukurannya tidak terlalu kecil & tidak juga besar. Bentuknya lucu, imut, dan menggemaskan seperti pemiliknya. Saya biasa memanggilnya Yeye. Yeye ini adalah teman saya ngopi dari zaman purbakala kuliah dulu. Hampir 4 tahun dia dengan setia menemani saya melampiaskan nafsu hobi ngopi saya. Entah kenapa kalo minum kopi dengan gelas lain terasa kurang nikmat. Jadi kemanapun saya bepergian, si Yeye tak pernah ketinggalan. Tak terhitung sudah berapa banyak jenis & merek kopi yang sudah saya cicipi bersama Yeye, sampai akhirnya saya menemukan bahwa cappuccino adalah yang terbaik dan terindah.
Sore itu, tepatnya lebaran kedua, hasrat saya untuk ngopi tiba² muncul. Mungkin karena sebulan penuh tidak bisa ngopi disore hari, jadi sore itu saya ingin menunaikan niat untuk minum cappuccino sepuasnya. Dengan mantab kaki saya melangkah ke sebuah lemari di dapur tepatnya dimana si Yeye dan teman²nya mangkal. Saya buka lemari, disana tampak bermacam jenis gelas yang berwarna warni. Merah kuning hijau dilangit yang biru. Tapi dimata saya, Yeye tetap yang paling indah. Saat itu saya bisa melihat wajahnya berseri saat melihat saya. Terlihat seperti ada semangat yang terpancar dari wajahnya. Begitupun dengan saya. Kita seperti sepasang kekasih yang tlah lama terpisah dan bertemu ditengah hujan yang syahdu, berlari merentangkan tangan seolah ingin memeluk satu sama lain. Tumpa se aeeee..... kucek kucek hota heee...
Saya pegang Yeye dengan lembut dan penuh kasih, bersiap saya bawa ke pelaminan dunia luar. Namun belum sempat saya menutup lemari, pegangan saya goyah. Yeye yang tadi bergantung erat di tangan saya jatuh dengan indahnya. Tidaaaakkkk....! Saat itu, bumi terasa berhenti berputar, angin berhenti berhembus, lautan berhenti berombak, dan tukul berubah menjadi ganteng! Apa yang tlah kulakukan. Aku tlah menjatuhkan gelas kuning ku tersayang. Apa yang tlah kulakukan Tuhan. Beberapa detik kemudian, terdengar suara pecahan kaca yang begitu menyayat hati, "GUBRAAAAKKK...", ups sorry, "PRAAAAANNKKK...". Yeye ku sayang hancur berkeping² diatas lantai keramik yang tak berdosa. Aku tak percaya, aku shock! Di depan jasad Yeye yang hampir tak berbentuk lagi, aku menangis. Terlintas kenangan² indah bersama Yeye. Yeye yang slalu setia menemani hari²ku, pagi saat mau pergi kuliah, sore saat pulang kuliah, begadang tengah malam saat lagi mengerjakan skripsi. Yeye yang tak pernah marah kalo ku cuekin, tak pernah sedih kalo ku marahi, dan tak pernah jealous kalo aku lagi bersama KD. Semua kisah indah itu harus ku tutup sampai disini. Andai saja aku Hiro Nakamura yang bisa menghentikan waktu, pasti Yeye bisa selamat. Ingin rasanya ku rekatkan kembali keping² tubuhnya agar dia bisa hidup lagi. Tapi semua itu hanya mimpi belaka. Aku harus merelakannya. Aku harus melupakannya. Sudah takdirnya untuk pergi. Hiks...
Begitulah... sampai hari ini saya masih merindukannya. Saya terus mencoba menikmati kopi dengan gelas lain, tapi tetap saja tak seindah dengannya. Oh Tuhan, mengapa dia harus pergi secepat itu, seperti itu, meninggalkanku dengan duka yang pilu. Bahkan pada saat² terakhir saya tidak sempat mengabadikan fotonya atau mengambil sisa² kepingan tubuhnya untuk saya simpan. Biarlah dia menjadi kenangan abadi dibenak saya. Kenangan yang akan menghiasi hari² saya nanti. Kenangan yang akan saya ceritakan nanti kepada anak cucu saya. Dan semoga kelak saya bisa menemukan penggantinya. Semoga... :)